Yogya Darurat Sampah, Desa Panggungharjo Bantul Diserbu Wisatawan Belajar Olah Sampah

TEMPO.CO, Yogyakarta – Situasi darurat sampah yang terjadi di tiga kabupaten/kota Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sejak 23 Juli 2023 lalu membuat tumpukan sampah tampak berserakan di berbagai titik. Darurat sampah itu dipicu penutupan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Piyungan yang akan berlangsung hingga 5 Septenber 2023 nanti.

Desa Pengelola Sampah

Di tengah situasi darurat sampah itu, sebuah desa di Kabupaten Bantul Yogyakarta justru mencuri perhatian karena mampu mengolah limbah sampahnya sendiri bahkan milik daerah lain. Desa itu tak lain Desa Panggungharjo Kabupaten Bantul. Kelompok Usaha Pengelolaan Sampah atau Kupas Desa Panggungharjo memiliki fasilitas Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, and Recycle (TPS3R) 
yang sudah dibangun sejak 2013.

“Wisatawan dalam kelompok studi tour dan masyarakat umum berbagai daerah sering datang untuk belajar pengolahan sampah ke sini,” kata Kepala Desa Panggungharjo, Wahyudi Anggoro Hadi Minggu 13 Agustus 2023. 

Wisatawan itu, kata Wahyudi kebanyakan rombongan pelajar baik SMA hingga mahasiswa. “Wisatawan itu belajar bagaimana ketika sampah masuk lalu diproses hingga akhir,” kata dia. Wahyudi mengatakan di fasilitas TPS3R itu, sisa sampah yang masuk ke shelter tinggal yang telah dipilah dari rumah tangga dan juga pasokan dari pemulung. 

Pengelolaan Sampah Jadi Kompos dan Bahan Industri Daur Ulang

Pengelolaan sampah di Desa Panggungharjo Bantul. Dok.istimewa.

Pembangunan TPS3R bersama para mitra itu, kata Wahyudi, telah berhasil mengelola sampah dari 2.000 rumah tangga di Desa Panggungharjo. “Sampah yang kami kelola diolah menjadi kompos, pupuk cair dan dipilah menjadi material untuk bahan industri daur ulang,” kata dia.

Operasional TPS3R Desa Panggungharjo itu juga bisa menciptakan lapangan kerja baru bagi 33 orang. “Kami sejauh ini telah berhasil mengurangi sampah yang dibuang ke TPA Piyungan sebesar 80 persen, kalau bisa dikembangkan oleh daerah lain di Yogya ini, maka bisa mengurangi beban TPA Piyungan yang sehari menerima 800 ton sampah itu cukup signifikan,” kata Wahyudi.

Baca Juga  Ingin 2024 Adem, Butet Kartaredjasa dan Seniman Yogya Bikin Panggung Bersatu dalam Guyonan

Iklan

Wahyudi menuturkan, pembangunan fasilitas pengelolaan sampah mandiri desanya saat itu melibatkan mitra swasta seperti Danone-AQUA. “Sejak sampah kami kelola sendiri lingkungan hidup masyarakat jadi nyaman, bersih,” kata dia.

Warga Desa Panggungharjo Sri Hastuti yang juga pelanggan fasilitas pengelolaan sampah desa itu   mengatakan, terjadi perubahan perilaku masyarakat sejak ada pengelolaan sampah mandiri itu. “Terutama kalau ada kegiatan di rumah warga, tuan rumah tidak perlu terlalu repot karena tamu bawa pulang sendiri sampahnya,” kata dia.

Apalagi jika sampah itu yang bernilai seperti botol atau gelas plastik. “Warga di sini terdidik, sampahnya ya tanggung jawabnya,” kata Hastuti. 

Warga Turut Aktif Mengelola Sampah

 
Mitra pengelola sampah Desa Panggungharjo, Rama Zakaria mengatakan pengelolaan itu baru berhasil ketika warga desa bisa aktif dan bersepakat bersama. “Efektifitas TPS3R itu baru terasa signifikan ketika sudah dapat mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPA Piyungan saat kelebihan kapasitas seperti ini,” kata Rama yang juga menangani pengelolaan itu di Pabrik Aqua Klaten Jawa Tengah.

Rama menuturkan TPS3R itu selain di Panggungharjo juga diterapkan di Desa Minomartani , Ngaglik Kabupaten Sleman Yogyakarta. “Ada juga di Desa Tembi, Kecamatan Timbulharjo, Bantul yang pengelolaannya mampu mengumpulkan 40 ton botol per bulan,” kata dia.

Pilihan Editor: Tak Jadi di Lereng Merapi, Sleman Tampung Sampah Sementara Dekat Perbatasan



Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *