Suasana Biara Via Cairoli di Basilika dan Damai di Kapel Bertuliskan Sacellum, Sacrarum, Reliquiarum

BEBERAPA waktu lalu, kami diundang untuk menghadiri acara-acara yang dilaksanakan di tempat yang benar-benar memberikan kedamaian.

Begitu masuk ruangan tempat acara berlangsung, rasa damai segera menyergap, hawa perdamaian menguasai kami dan menyusup masuk ke dalam paru-paru memberikan kesegaran baru.

Ketika kami masuk ke tempat acara–di Curia Generale Fratelli Minori Cappuccini (semacam biara pusat para romo Kapusin), Basilica di San Lorenzo in Damasco, dan Basilica Maria Maggiore– hanya suasana, hawa, napas kedamaian yang terasa.

Meskipun di luar biara, di luar basilika hiruk-pikuk.

Ke Curia Generale Fratelli Minori Cappuccini atau Biara Via Cairoli, kami menghadiri acara perpisahan dengan Romo Victorius Dwiardy OFMCap (Ordo Saudara-saudara Dina Kapusin didirikan pada1528, sebagai jawaban terhadap kehidupan gereja pada masa itu yang dianggap sudah menyimpang).

Romo Victorius OFMCap akan pulang ke Indonesia, setelah 10 tahun berkarya di Italia. Ia diangkat menjadi Uskup Banjarmasin.

Letak biara ini persis di depan Wisma KBRI Roma. Yang sangat mengesankan dan menularkan suasana damai di biara dan kepada para penguninya adalah sebuah kamar yang di atas pintu masuk bertuliskan “Sacellum, Sacrarum, Reliquiarum”, Kapel, Tempat Suci, Relikui”.

Baca juga: Cerita Kapel Penyimpanan Relikui Peninggalan Orang Kudus, Dubes RI di Vatikan Langsung Merinding

Kapel itu kecil: kira-kira panjang empat meter dan lebar tiga meter saja. Tapi, di kapel disimpan banyak relikui. Itu yang membuat kamar tersebut sangat penting.

Menurut KBBI relikui adalah barang peninggalan orang suci yang dianggap berharga.

Relikui berasal dari bahasa Latin reliquiae, artinya: peninggalan.

Relikui orang kudus adalah suatu material peninggalan dari orang kudus yang sudah wafat, baik berupa bagian tubuh, maupun benda-benda yang pernah bersentuhan dengan mereka.

Baca Juga  Kehilangan Dua Kursi di DPRD, Partai Gerindra Juara Pemilu 2024 di Kabupaten Bogor

Dengan menghormati relikui para kudus,  diharapkan  umat beriman dapat terdorong untuk berjuang dalam kekudusan meniru teladan mereka.

Suasana aman, damai, nyaman, tentram, sepi, bahkan sejuk terasa sekali. Meskipun ketika masuk, mula-mula merinding, namun lama-lama terasa damai; tenteram. Nyala lilin yang berkerlip-kerlip menambah suasana magis di ruang itu. Tempat yang pas untuk berdoa, bermeditasi.

Dubes RI di Vatikan langsung merinding begitu masuk Kapel yang menjadi tempat penyimpanan relikui, peninggalam orang kudus. (Tias Kuncahayono untuk Wartakotalive.com)

***



Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *